Minggu, 07 Juli 2013

3 PRINSIP DASAR YANG MENJADI PEDOMAN KEPUTUSAN SEORANG PEMODAL PEMULA DALAM MEMILIH SAHAM YANG PROFITABLE


Bullish market (Trend Naik Harga Saham) Selalu mengundang pemodal-pemodal baru untuk ikut ‘berpesta’ didalamnya. Ketika bullish market, kabar-kabar mengenai mudahnya mencari duit di pasar modal memang membuat semua orang ingin nimbrung didalamnya. Mau yang pedagang, karyawan, ibu rumah tangga, bahkan pelajar, semua mencoba untuk meraih kentungan dengan bertransaksi saham. Sebagian memang cukup beruntung untuk bisa meraup keuntungan. Sebagian pulang dengan impas atau hanya rugi sedikit, sebagian lagi pulang dengan kerugian habis-habisan. Sudah rugi, ada hutang pula. Itu kondisi terburuk yang bisa terjadi pada seorang pemodal. Setelah memutuskan untuk melakukan keputusan untuk transaksi saham, setelah kita memutuskan untuk transaksi online atau melalui broker, setelah kita memutuskan untuk melakukan transaksi melalui broker yang mana. Keputusan penting apa lagi yang harus dilakukan oleh seorang pemodal pemula agar bisa ‘selamat’ dari hingar bingar bursa saham ini? 
Menurut saya, ada tiga buah keputusan penting yang harus diambil oleh seorang pemodal pemula: 
Pertama: Anda harus memutuskan untuk Trading atau Investasi
Satu fakta yang harus kita perhatikan ketika kita mulai melakukan transaksi beli dan jual saham adalah bahwa Trading berbeda dengan investasi.  Perbedaannya terutama terletak pada jangka waktu investasinya (investment time horizon),sumber dari keuntungan, alat analisis yang digunakan untuk melakukan prediksi,dan bagaimana seorang pemodal akan mencapai keuntungan.
Jangka waktu investasi & Sumber Keuntungan
Jangka waktu investasi adalah perbedaan terbesar antara investasi dengan trading. Perbedaan dari jangka waktu investasi ini, nantinya juga akan memunculkan perbedaan lainnya.
Ketika seorang investor melakukan pembelian saham dengan motif untuk melakukan investasi, maka ia berharap akan prospek atau bisa juga nilai (value) dari perusahaan untuk jangka panjang. Pada prinsipnya, seorang investor hanya melakukan posisi beli jika melihat sebuah perusahaan dengan prospek yang bagus. 
Saham ini kemudian akan ditahan selama investor tersebut tidak melihat adanya perubahan fundamental yang mendasar terjadi pada perseroan.  Oleh karena perubahan fundamental yang mendasar ini sering kali tidak bisa berlangsung cepat (ingat, fakta yang mendasari selalu berasal dari laporan keuangan perseoran yang hanya dipublikasikan setiap 3 bulan sekali), maka holding periods (masa simpan) dari saham ini bisa berlangsung dalam waktu yang lama.
Bisa satu tahun, tiga tahun, lima tahun, bahkan lebih dari sepuluh tahun.  Oleh karena itu, seorang investor memang memperoleh keuntungan dari apresiasi pergerakan harga untuk jangka panjang.
Disisi lain, seorang trader, melakukan pembelian saham dengan waktu simpan yang pendek.  Entry (beli) – Untung – Exit (jual). Keuntungan besar dan cepat. Itulah yang diinginkan oleh seorang trader. 
Pendeknya jangka investasi ini karena seorang trader bereaksi terhadap perubahan pergerakan harga, lebih dari sekedar perubahan kondisi fundamental dari perseorang. Ini yang menyebabkan holding periodsnya menjadi cenderung pendek. Bisa dalam hitungan bulan, minggu, hari, jam, bahkan menit.
Alat analisis
Perbedaan sumber informasi ini (investasi dari fakta fundamental, sedangkan trader dari pergerakan harga) inilah yang kemudian membuat alat analisisnya menjadi berbeda.  Seorang investor sudah dipastikan akan menggunakan analisis fundamental
Disisi lain, seorang trader lebih bereaksi terhadap perubahan pergerakan harga.  Jadi alat analisisnya bisa macem-macem.  Pake fundamental juga bisa. 
Tapi lebih sering menggunakan alat analisis yang lain, seperti analisis teknikalanalisis perilaku, atau alat-alat analisis yang lain, selama masih dalam batasan aturan pasar modal tentu saja.
Tujuan Investasi dan bagaimana cara seorang pemodal mencapainya
Seorang investor akan mengedepankan rasio.  Semua harus ada landasan pemikirannya.  Semua harus masuk akal. Semua harus sesuai dengan teori yang diterima secara umum (terutama di jalur pendidikan resmi/sekolah). 
Untung ya untung, tapi harus rasional.  Itulah prinsip dari seorang investor.  Disisi lain, seorang trader meletakkan keuntungan diatas segala-galanya. 
Pertimbangan apakah cara yang ditempuh harus rasional, tidaklah penting.  Yang penting untung.  Untung sesuai dengan aturan pasar modal yang ada.
Strategi transaksi: Investor vs Trader
Perbedaan tersebut diatas membuat strategi transaksi antara seorang investor dan seorang investor menjadi berbeda. 
Seorang investor akan memilih saham dan kemudian melakukan posisi beli, dan kemudian akan menahannya (hold) selama mungkin. 
Selama tidak ada perubahan fundamental yang mendasar, buat apa melakukan posisi jual?   
BELI KETIKA MURAH, DAN TAHAN SELAMA MUNGKIN SELAMA TIDAK ADA PERUBAHAN PROSPEK.
Disisi lain, seorang trader selalu melihat arah pergerakan harga.  Ketika harga akan bergerak naik, dia akan melakukan posisi beli, sedangkan ketika harga akan bergerak turun, dia akan melakukan posisi jual.   
BELI KETIKA AKAN NAIK, DAN JUAL KETIKA AKAN TURUN. 
Itu adalah strategi umum yang sering dilakukan oleh seorang trader.
TRADING BUKANLAH SPEKULASI
Saya tidak tahu bagaimana sikap anda.  Tapi, buat saya: Trading itu berbeda dengan spekulasi. Perbedaannya terletak pada kedalaman analisis yang dilakukan ketika kita melakukan posisi.
Spekulasi identik dengan melakukan posisi yang untung-untungan, analisisnya hanya dangkal, atau sering kali tidak jelas landasan teorinya. Disisi lain, ketika seorang pemodal melakukan posisi trading, maka semua sudah dilakukan berdasarkan kalkulasi yang matang.  Serta analisis dengan presisi prediksi dengan probabilitas yang terkontrol. 
Dengan kata lain: Jika seseorang pemodal melakukan posisi beli/jual dengan probabilitas 60% – 80% untuk memperoleh keuntungan, itu disebut sebagai trading.  Sedangkan jika seseorang pemodal melakukan posisi beli/jual dengan probabilitas keuntungan yang tidak jelas atau tidak terkalkukasi, itu yang disebut sebagai spekulasi. Trading itu berbeda dengan investasiInvestasi itu berbeda dengan trading. Kesalahan dasar karena tidak tahu perbedaan antara trading dengan investasi ini adalah ‘predator’ atau ‘pembunuh’ pemodal pemula yang paling banyak memakan korban.
Contoh klasiknya adalah masalah ‘investasi emas’ yang beberapa waktu lalu sempat marak dibicarakan orang. Bagi anda yang tertarik dan kemudian langsung membeli emas lantakan, mungkin anda tidak banyak mengalami masalah. Akan tetapi, jika anda kemudian melakukan ‘investasi’ dengan ‘membeli emas di bursa berjangka’. Bisa jadi anda ‘sempat’ mengalami masalah. Membeli emas di bursa berjangka adalah sebuah posisi margin.
Kalau anda membeli emas ketika harga berada di titik tertinggi dan kemudian harga emas kemudian turun hingga titik terendahnya beberapa minggu lalu. Anda mungkin bisa merasakan ‘debaran jantung’ karena melakukan posisi yang sebenarnya diluar kemampuan anda. Kondisi serupa juga akan anda alami jika anda membeli saham dengan posisi margin (dana yang dipinjamkan oleh perusahaan sekuritas). Bukannya saya melarang, tapi anda harus selalu ingat:
Setiap posisi margin adalah posisi trading…kecuali jika anda memang memiliki dana yang cukup untuk menebus (membayar penuh) atas posisi beli yang sudah anda buat.
Anda juga bisa menemukan dalam tulisan saya tadi, bahwa dengan mengetahui perbedaan antara trading dengan investasi, maka anda sudah memiliki perbedaan dalam hal:
Jangka waktu investasi
Sumber dari keuntungan
Alat analisis (analisis fundamental, analisis teknikal, atau analisis-analisis lainnya)
Tujuan dalam melakukan transaksi,
dan masih banyak lagi.
Anda bahkan sudah mengetahui bagaimana perlakuan yang harus dilakukan atas posisi nyangkut (apakah harus di cut loss, average down, atau harus diapakan).bagaimana sudut pandang anda mengenai IPO, dan masih banyak lagi.
Intinya:
kalau anda sudah mengerti aturan dasar dalam bertransaksi, yang pertama kali anda harus ketahui adalah perbedaan antara trading dan investasi.
Kedua: Mengetahui perbedaan antara Saham Fundamental dan Saham Non Fundamental
Saham fundamental  adalah saham yang dianalisis oleh sejumlah analis fundamental sehingga pergerakan harga sahamnya lebih merupakan pencerminan rekomendasi-rekomendasi yang dilakukan oleh analis fundamental tersebut.
Definisi dari ‘saham non-fundamental’? Sederhana sih… saham yang tidak tergabung dalam saham fundamental, langsung kita masukkan kepada ‘saham non-fundamental’.
Saham yang penggeraknya adalah murni pasar, harus dianalisis oleh minimal 15 orang analis fundamental.  
Atau… anda bisa menggunakan jumlah yang lain. Tapi… tetap saja tidak bisa terlalu sedikit.  Ini karena sebuah saham yang hanya dianalisis oleh kurang dari 5 orang analis misalnya, sering kali unsur ‘subjektifitas’ bisa jadi bisa terlihat.
Jadi… disini sebenarnya asal mula dari istilah ‘saham fundamental’ dan ‘saham non-fundamental’.
Sebuah ‘saham fundamental’ yang bagus, biasanya dianalisis oleh minimal 15 orang analis fundamental. Akan tetapi, jika kita mempertimbangkan unsur masuknya saham-saham berkapitalisasi besar (terutama GGRM sebagai saham big caps yang paling sedikit menarik analis fundamental), saham yang dianalisis oleh 9 – 10 orang analis sebenarnya sudah cukup untuk bisa dimasukkan dalam kategori ‘saham fundamental’.
Keuntungan untuk fokus pada saham-saham ‘Fundamental’
Seorang analis fundamental melakukan rekomendasi berdasarkan perubahan-perubahan fundamental yang terdapat pada emiten. Oleh karena itu, keuntungan yang paling utama untuk fokus pada saham-saham ini adalah: pergerakan harganya bergerak sesuai dengan kondisi fundamental dari perseroan.  Artinya: kalau kondisi fundamentalnya bagus, maka harga akan bergerak naik, vice versa.
Keuntungan kedua adalah: pergerakan harga sahamnya selalu terlihat rasional.  Ini karena setiap pergerakan harga selalu terdapat alasan yang mendasari pergerakan.  Dan alasan tersebut, bisa ditemukan pada research report yang dipublikasikan oleh analis tersebut.
Keuntungan ketiga: Volume transaksi dari saham-saham tersebut akan selalu ada.  Dalam kondisi market seperti apapun, saham-saham ini tidak pernah diam.  Selalu ada volume pasar yang mencukupi sehingga kita bisa terhindar dari resiko likuiditas.
Selain itu, pergerakan harganya juga mengikuti pergeraan pasar secara keseluruhan.  Jadi, jika anda trading dengan strategi ‘Bermain IHSG‘, maka saham-saham tersebut bakal lebih sering naik turun sesuai dengan pergerakan IHSG.
Kelemahan
Akan tetapi, pemisahan seperti ini bukannya tanpa kelemahan.  Beberapa kelemahan yang umumnya terjadi adalah:
Analis fundamental lebih mudah memberikan rekomendasi beli dibandingkan dengan rekomendasi jual
Analis fundamental lebih mengutamakan saham dengan kapitalisasi besar dibandingkan dengan kapitalisasi kecil
Analis fundamental sering harus menunggu fakta fundamental terbaru.  Saya masih ingat betul ketika Crash 2008.  Saham BUMI bisa meluncur turun dari level 7000-an hingga dibawah level 1000 tanpa adanya rekomendasi fundamental terbaru.  Itu karena tidak ada perubahan fakta fundamental terbaru yang terjadi.
Pengetahuan mengenai kondisi dari medan peperangan adalah salah satu kunci dari kemenangan. Dalam melakukan investasi atau trading di pasar modal, saham-saham yang ada di bursa adalah medan peperangannya.
Mengetahui bahwa saham itu adalah saham yang berfundamental, ataukah saham itu adalah saham non- fundamental, adalah salah satu kunci dalam memperoleh keuntungan.
Mengetahui hal ini, akan membedakan strategi dasar yang akan anda lakukan: apakah anda akan trading, apakah anda akan investasi, apakah anda mau menggunakan margin, apakah anda perlu cut loss, dan lain sebagainya.
Ketiga: Keputusan untuk melakukan posisi beli atau posisi jual berdasarkan pendapat sendiri atau pendapat orang lain
ketika anda berkeinginan untuk melakukan posisi investasi/trading berdasarkan pendapat orang lain, BELILAH REKSADANA!!!
Ketika melakukan transaksi beli dan jual saham, semua resiko ada ditangan anda.
Tidak ada satu orang lainpun yang bersedia menanggung kerugian atas keputusan transaksi yang anda lakukan. Itulah sebabnya, setiap keputusan bertransaksi harus dibuat berdasarkan prediksi dan pertimbangan anda sendiri. ketika anda melakukan positioning berdasarkan prediksi orang lain, anda terekspos terhadap resiko-resiko yang tidak anda inginkan, seperti misalnya, resiko subyektifitas pemberi rekomendasidan masih banyak lagi yang lainnya.
Intinya:
Bertransaksilah dengan menggunakan pendapat dan prediksi anda sendiri. Gunakan pendapat / prediksi orang lain sabagai pertimbangan.
Bursa itu seperti sebuah api unggun yang sangat besar, yang menyala ditengah kegelapan malam. Api unggun yang selalu membutuhkan kayu bakar untuk tetap menyala. Api unggun yang selalu memancing minat dari semua yang melihatnya untuk mendekat. Manusia, serangga, binatang pemangsa, untuk selalu mendekat.
Apakah anda adalah sepotong kayu bakar yang menjadi bara didalamnya?
Apakah anda adalah serangga yang terbakar oleh nyala api ketika anda mendekat?
Apakah anda adalah binatang kecil mendekat dan kemudian dimangsa oleh binatang pemangsa yang tengah menunggu kedatangan anda di sekitar api unggun tersebut?
Apakah anda adalah seorang manusia ceroboh yang kemudian juga ikut dimangsa oleh binatang pemangsa yang tengah menunggu?
Apakah anda adalah seorang manusia rasional yang mendekati api unggun tersebut dengan kewaspadaan?
Semua adalah pilihan yang tersedia untuk anda.
Yang tidak boleh anda lupa adalah: The name of the game is survival. Menjadi seorang pemenang dengan menjadi predator yang berada di tingkat teratas dari rantai makanan, yang bisa menikmati keuntungan luar biasa dari bertransaksi saham, memang sangat nikmat. Akan tetapi, menjadi seorang, survivor yang bisa keluar dari pertarungan dalam kondisi hidup, menjadi seorang pemodal yang bisa memperoleh keuntungan dari bertransaksi saham, sebenarnya juga sudah cukup. Karena jumlah mereka yang hangus, keluar dari bursa dalam kondisi rugi, jumlahnya jauh lebih banyak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar