Melihat kinerja KPK saat ini, saya
merasa optimis bahwa pemberantasan korupsi di Indonesia bukanlah hal yang
mustahil dilakukan. Namun, tindakan ini tidak bias terjadi dalam waktu yang
sangat singkat.
Indonesia adalah salah satu Negara
dengan tingkat korupsi tertinggi. Namun, peningkatan korupsi ini bias
dipastikan membuat Negara ini rugi cepat atau lambat.
Adapun factor – factor yang membuat
korupsi di Indonesia sulit diberantas, antara lain :
1. Hukuman kurang tegas
Perlu diakui
bahwa pemerintah hanya memberikan hukuman ringan kepada koruptor, jika
dibandingkan dengan Negara lain, hukuman terhadap koruptor di Indonesia ini
tergolong sangat ringan. Di cina, koruptor akan dipenggal kepalanya. Di arab
Saudi, koruptor mendapatkan hukuman potong tangan sesuai syariat islam. Tanpa
hukuman yang tegas dan berat, tidak ada efek jera. Koruptor pun masih merasa
tenang meskipun dijatuhi hukuman penjara. Toh, mereka masih bisa bebas lahi
setelah dikeluarkan dari penjara.
Jika
Indonesia mau menetapkan hukuman yang tegas terhadap koruptor, kemungkinan
besar kasus korupsi akan turun drastis. Dengan hukuman tersebut, calon koruptor
akan berpikir seribu kali sebelum melakukan kejahatannya.
2. Korupsi dilakukan secara sistematis
Tindakan
korupsi tidak bisa terlaksana jika hanya dilakukan sepihak. Seorang koruptor
pasti bekerja sama dengan komplotannya untuk mengeruk uang rakyat.
Selain itu,
korupsi dilakukan dimana saja selama tempat itu mempunyai potensi yang bisa
dimanfaatkan. Korupsi bisa ditemukan di sekolah, lembaga pemerintahan, dan
tempat lainnya.
Korupsi bisa
dilakukan dimana saja, termasuk disekolah tempat kita untuk menuntut ilmu.
Kesempatan untuk korupsi bisa didapatkan mulai dari saat siswa masuk sekolah
sampai kelulusannya. Untuk penerimaan siswa baru, sekolah favorit tidak segan –
segan meminta uang sumbangan dalam jumlah besar.
Orang tua
siswa yang memberikan uang lebih besar mempunyai peluang untuk diterima yang
lebig besar juga. Jumlahnya bisa mencapai puluhan juta. Bahkan, biaya masuk
untuk SMA saja bisa lebih besar daripada perguruan tinggi. Sekolah sendiri
mempunyai dalih tersendiri untuk menjustifikasi tindalan pemerasan terselubung
tersebut.
3. Adanya upaya untuk balas dendam
Sudah menjadi
rahasia umum bahwa untuk menjadi PNS diperlukann uang sogokan. Tidak semua PNS
melakukan tindakan hina ini, tetapi tindakan ini tentu saja mencoreng reputasi
dan kredibilitas PNS sebagai abdi Negara. Seorang calon PNS harus membayar uang
sogokan dalam jumlah puluhan sampai ratusan juta rupiah jika ingin jalannya
dimudahkan. Jika dibandingkan dengan gaji PNS, jumlah uang sogokan tersebut
tentunya jauh lebih besar.
Namun, mereka
yang benar – benar ingin menjadi PNS secepatnya tidak akan segan – segan untuk
membayar sogokan tersebut. Jika PNS tersebut masuk dengan cara yang tidak
benar, hal ini bisa menjadi justifikasi bagi mereka untuk bekerja seenaknya.
Toh, mereka sudah bayar mahal untuk menjadi PNS. Gajinya pun tidak sebanding
dengan sogokan mereka. Selain itu, uang sogokan tersebut juga bisa menjadi
cambuk untuk mengambil uang rakyat untuk menutupi kerugian mereka. Jika gaji
bulanan tidak bisa menutupi uang sogokan tersebut, uang rakyatlah yang menjadi
sasaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar