Senin, 08 Juli 2013

sejarah kota tegal


kota tegal adalah Tegal Kota Bahari, yakni mempunya makna “Tegal Sing Resik Gemerlap Kotane” atau “Kota yang bersih dan Mewah”. Adapun menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata bahari berarti indah, elok sekali; mengenai laut; dahulu kala, kuno, tua sekali, dan bertuah.
Sebagai sebuah slogan, bahari identik dengan Kota Tegal adalah berkait dengan gerakan kebersihan, ketertiban, keamanan, dan keindahan kota. Gerakan tersebut mulai dicanangkan pada masa Wali Kota M Zakir akhir 1980-an. Bahari lebih dikenal sebagai akronim dari bersih, aman, hijau, asri, rapi, dan indah. Slogan dalam bentuk akronim juga dimiliki berbagai kota di Indonesia.
Gerakan dengan slogan Tegal Kota Bahari tergolong sukses. Indikator yang bisa dilihat adalah Tegal pernah meraih piala adipura, lambang supremasi kota terbersih yang diberikan pemerintah pusat. Indikator lain adalah slogan tersebut populer dan melekat di hati masyarakat Kota Tegal.
Kebanggaan akan slogan bahari, oleh sebagian masyarakat Tegal di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) digunakan sebagai nama warung tegal (warteg). Lengkap dengan warna biru yang merupakan ciri khas gerakan kebersihan dan keindahan kota.
Letak Geografis Kota Tegal Sendiri adalah
Secara geografis, Kota Tegal terletak pada posisi 109°08’-109°10’
Bujur Timur dan 06°50’-06°53’ Bujur Selatan dengan luas yang relatif sempit bila dibandingkan dengan wilayah sekitar yakni sebesar 39,68
Km² atau 0, 11% dari luas provinsi Jawa Tengah, setelah ada penambahan dari sebagian wilayah Kabupaten Brebes.
Tegal terletak 165 km sebelah barat Kota Semarang, atau 329 km sebelah timur Jakarta. Tegal memiliki lokasi yang strategis, karena berada di jalur pantai utara (pantura) Jawa Tengah, serta terdapat persimpangan jalur utama yang menghubungkan pantura dengan kota-kota di bagian selatan Pulau Jawa.
Kota Tegal berbatasan langsung dengan ibukota Kabupaten Brebes. Pertumbuhan kota Tegal juga berkembang ke arah selatan di wilayah Kabupaten Tegal, yakni di Kecamatan Dukuhturi, Talang, Adiwerna, dan Slawi.
Stasiun kereta api Tegal menghubungkan kota ini dengan kota-kota lain di pulau Jawa. Beberapa kereta api yang singgah di stasiun ini adalah: Senja Utama dan Fajar Utama (Jakarta-Semarang), Sembrani (Jakarta-Surabaya), Matarmaja (Jakarta-Malang), Bangunkarta (Jakarta-Jombang), Harina (Bandung-Semarang), dan Kaligung (Tegal-Semarang).
Pada era 1960-an kota Tegal pernah memiliki landasan udara Martoloyo yang diresmikan oleh Presiden Sukarno.
Jika diukur dengan jarak tempuh antara Jakarta dan Surabaya, kota Tegal kira-kira berada di tengah-tengahnya. Posisi strategis yang didukung dengan infrastruktur yang memadai menjadikan kota Tegal sebagai kota transit. Hal tersebut berdampak pada hidupnya usaha di bidang jasa pariwisata, terutama perhotelan
Adapun Sejarah Kota Tegal adalah
Kota Tegal merupakan wujud dari desa yang bernama TETEGUAL, yang pada tahun 1530 telah nampak kemajuannya dan termasuk wilayah Kabupaten Pemalang yang mengakui Kerajaan Pajang.
Ki Gede Sebayu saudara Raden Benowo pergi ke arah Barat dan sampai di tepian Sungai Gung. Melihat kesuburan tanahnya, tergugah dan berniat bersama – sama penduduk meningkatkan hasil pertanian dengan memperluas lahan serta membuat saluran pengairan.
Daerah yang sebagian besar merupakan tanah ladang tersebut kemudian dinamakan Tegal.
Atas keberhasilan usahanya memajukan pertanian dan membimbing warga masyarakat dalam menanamkan rasa keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa, ia diangkat menjadi pemimpin dan panutan warga masyarakat. Oleh Bupati Pemalang kemudian dikukuhkan menjadi sesepuh dengan pangkat Juru Demung atau Demang.
Pengangkatan Ki Gede Sebayu menjadi pemimpin dilaksanakan pada perayaan tradisional setelah menikmati panen padi dan hasil pertanian lain, di bulan purnama tanggal 15 Sapar tahun EHE 988 yang bertepatan dengan hari Jum’at Kliwon. Dalam Perayaan juga dikembangkan ajaran agama Islam dan budaya yang berpengaruh pada kehidupan masyarakat pada waktu itu.
Hari, tanggal dan tahun Ki Gede Sebayu diangkat menjadi Juru Demung itu ditetapkan sebagai hari Jadi Kota Tegal dengan Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 1988 tanggal 28 Juli 1988.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar