Minggu, 07 Juli 2013

hidp dengan rasa syukur


Bersyukur atau mengeluh itu bukan di tentukan oleh keadaan. Karena bukan keadaan yang membuat kita menjadi seperti apa, tetapi kitalah yang menentukan keadaan di sekitar kita. Pribadi yang dewasa tidak dibentuk oleh keadaan tetapi pribadi yang dewasalah yang menjadi arsitek bagi keadaan.
Bersyukur atau mengeluh juga tidak ditentukan oleh kepemilikan, karena kepemilikan itu sifatnya sementara; apa yang kita miliki sekarang mungkin harus kita relakan pada waktunya,entah kita siap ataupun tidak.
Bersyukur atau mengeluh juga bukan karena jabatan dan kedudukan, karena jabatan dan kedudukan itu bukanlah penjamin bagi kehidupan kita, tetapi jabatan dan kedudukan adalah tanggung jawab dan amanah yang harus kita lakukan demi untuk kebaikan sesama.
Bersyukur adalah soal pikiran dan cara pandang kita terhadap beragam pengalaman hidup yang kita jalani dan alami. Pikiran dan cara pandang yang positif dan baik akan membuat segala sesuatu di sekitar kita menjadi berbeda.
John C. Maxwel, menuliskan bahwa sesungguhnya medan peperangan terbesar berada di pikiran kita. Karena pikiran itu sangat kuat dan dapat mempengaruhi kehidupan seseorang. Termasuk di dalamnya soal bersyukur atau mengeluh dalam hidup kita.
Ada ungkapan: ”Menabur dalam pikiran akan menuai dalam tindakan, menabur dalam tindakan akan menuai kebiasaan, menabur kebiasaan akan menuai karakter”. Pikiran kita seumpama tanah yang tidak terlalu perduli dengan biji apa yang akan di tanamkan diatasnya. Apapun yang kita tanamkan maka pikiran kita tinggal merespon dan menumbuhkannya. Jadi sekali lagi bersyukur atau mengeluh itu adalah soal pikiran dan cara pandang. Pergumulan dan kesusahan bisa dianggap sebagai persoalan yang membuat kita sulit bersyukur tetapi juga sebaliknya dapat dipandang sebagai bagian   dari pengalaman hidup  yang Sang Khalik percayakan demi untuk pembentukan diri kita menjadi semakin indah.
Bersyukur adalah soal cara pandang: sebagian orang menganggap duri pada mawar sebagai sesuatu yang mengganggu, karena duri itulah maka mawar menjadi sulit untuk dipetik.  Tetapi sebagian lagi menganggap  itu sebagai sesuatu yang positif, karena duri itulah maka mawar terlindungi.
Jika bersyukur adalah soal hati dan cara pandang, lalu pertanyaannya kemudian adalah…..apa yang membuat kita sulit untuk bersyukur?
Kita sulit bersyukur pertama-tama karena kita tidak dapat mencukupkan diri dengan apa yang ada. Kita selalu berfikir kecukupan saya belum sepenuhnya saya dapatkan. Bersyukur baru dapat kita alami hanya ketika kita menyadari dengan sungguh apa yang sudah kita miliki bukan karena apa yang belum kita miliki. Bersyukur dapat kita praktekkan hanya ketika kita mampu menghitung dan menghargai apa yang sudah kita dapatkan dan bukan menyesalkan tentang apa yang belum bisa kita dapatkan.
Bersyukur juga baru dapat kita ungkapkan ketika kita juga mampu menghargai keterbatasan. Karena hanya mereka yang mampu menghargai keterbatasan maka mereka jugalah yang pada akhirnya mensyukuri kecukupan. Membandingkan diri kita dengan mereka yang lebih tanpa disertai dengan usaha yang sungguh dan semangat untuk menuju pada akhirnya akan membuat kita menyalahkan hidup yang seharusnya mendatangkan kebahagiaan, dan akibatnya hidup kita  menjadi hidup yang penuh dengan keluhan dan kesusahan. Hargailah keterbatasan tetapi jangan sekali-kali kita berfikir untuk menerima keterbatasan sehingga kita merasa tidak perlu berbuat apa-apa lagi selain menerima tanpa usaha.
Bersyukur adalah kesungguhan untuk berusaha secara maximal, mencapai sesuatu yang paling baik tetapi juga tidak mengabaikan dan mengecilkan apa yang sudah kita capai dan raih dalam kehidupan yang kita jalani.
Bersyukur adalah kebahagiaan yang di dalamnya kita menikmati hari ini dan menapaki hari depan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar