Bersyukur
atau mengeluh itu bukan di tentukan oleh keadaan. Karena bukan keadaan yang
membuat kita menjadi seperti apa, tetapi kitalah yang menentukan keadaan di
sekitar kita. Pribadi yang dewasa tidak dibentuk oleh keadaan tetapi pribadi
yang dewasalah yang menjadi arsitek bagi keadaan.
Bersyukur
atau mengeluh juga tidak ditentukan oleh kepemilikan, karena kepemilikan itu
sifatnya sementara; apa yang kita miliki sekarang mungkin harus kita relakan
pada waktunya,entah kita siap ataupun tidak.
Bersyukur
atau mengeluh juga bukan karena jabatan dan kedudukan, karena jabatan dan
kedudukan itu bukanlah penjamin bagi kehidupan kita, tetapi jabatan dan
kedudukan adalah tanggung jawab dan amanah yang harus kita lakukan demi untuk
kebaikan sesama.
Bersyukur
adalah soal pikiran dan cara pandang kita terhadap beragam pengalaman hidup
yang kita jalani dan alami. Pikiran dan cara pandang yang positif dan baik akan
membuat segala sesuatu di sekitar kita menjadi berbeda.
John
C. Maxwel, menuliskan bahwa sesungguhnya medan peperangan terbesar berada di
pikiran kita. Karena pikiran itu sangat kuat dan dapat mempengaruhi kehidupan
seseorang. Termasuk di dalamnya soal bersyukur atau mengeluh dalam hidup kita.
Ada
ungkapan: ”Menabur dalam pikiran akan menuai dalam tindakan, menabur dalam
tindakan akan menuai kebiasaan, menabur kebiasaan akan menuai karakter”.
Pikiran kita seumpama tanah yang tidak terlalu perduli dengan biji apa yang
akan di tanamkan diatasnya. Apapun yang kita tanamkan maka pikiran kita tinggal
merespon dan menumbuhkannya. Jadi sekali lagi bersyukur atau mengeluh itu
adalah soal pikiran dan cara pandang. Pergumulan dan kesusahan bisa dianggap
sebagai persoalan yang membuat kita sulit bersyukur tetapi juga sebaliknya
dapat dipandang sebagai bagian dari pengalaman hidup yang
Sang Khalik percayakan demi untuk pembentukan diri kita menjadi semakin indah.
Bersyukur
adalah soal cara pandang: sebagian orang menganggap duri pada mawar sebagai
sesuatu yang mengganggu, karena duri itulah maka mawar menjadi sulit untuk
dipetik. Tetapi sebagian lagi menganggap itu sebagai sesuatu yang
positif, karena duri itulah maka mawar terlindungi.
Jika
bersyukur adalah soal hati dan cara pandang, lalu pertanyaannya kemudian
adalah…..apa yang membuat kita sulit untuk bersyukur?
Kita
sulit bersyukur pertama-tama karena kita tidak dapat mencukupkan diri dengan
apa yang ada. Kita selalu berfikir kecukupan saya belum sepenuhnya saya
dapatkan. Bersyukur baru dapat kita alami hanya ketika kita menyadari dengan
sungguh apa yang sudah kita miliki bukan karena apa yang belum kita miliki.
Bersyukur dapat kita praktekkan hanya ketika kita mampu menghitung dan
menghargai apa yang sudah kita dapatkan dan bukan menyesalkan tentang apa yang
belum bisa kita dapatkan.
Bersyukur
juga baru dapat kita ungkapkan ketika kita juga mampu menghargai keterbatasan.
Karena hanya mereka yang mampu menghargai keterbatasan maka mereka jugalah yang
pada akhirnya mensyukuri kecukupan. Membandingkan diri kita dengan mereka yang
lebih tanpa disertai dengan usaha yang sungguh dan semangat untuk menuju pada
akhirnya akan membuat kita menyalahkan hidup yang seharusnya mendatangkan
kebahagiaan, dan akibatnya hidup kita menjadi hidup yang penuh dengan
keluhan dan kesusahan. Hargailah keterbatasan tetapi jangan sekali-kali kita
berfikir untuk menerima keterbatasan sehingga kita merasa tidak perlu berbuat
apa-apa lagi selain menerima tanpa usaha.
Bersyukur
adalah kesungguhan untuk berusaha secara maximal, mencapai sesuatu yang paling
baik tetapi juga tidak mengabaikan dan mengecilkan apa yang sudah kita capai
dan raih dalam kehidupan yang kita jalani.
Bersyukur
adalah kebahagiaan yang di dalamnya kita menikmati hari ini dan menapaki hari
depan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar